Dua ekor semut berbeda warna sedang mengobrol lirih. Mereka mengobrol serius membahas tentang koloni kelelawar yang setiap malam lalu-lalang di langit.
Katanya, si semut merah mendengar sebuah berita bahwa ada seekor kelelawar yang sangat pandai berburu. Buruannya bahkan bisa tiga kali lipat lebih banyak daripada koloninya.
Sampai suatu ketika, ada seekor kelelawar kecil yang sulit mendapat buruan menanyakan cara berburu pada si kelelawar pemburu ulung itu. Kelelawar pemburu ulung itu memberi tahu satu rahasia tentang caranya berburu tanpa ragu.
Malam berikutnya, si kelelawar kecil mencoba memburu mangsa dengan cara yang sudah diajarkan. Tidak berapa lama, si kelelawar kecil mendapat mangsa. Ia berpesta malam itu.
Kelelawar kecil hampir setiap hari selalu menemani si kelelawar pemburu, mencarikan makan, membersihkan sarang, mengikuti setiap perkataan si kelelawar pemburu dengan senang hati.
Berita itu menyebar cepat hampir ke seluruh koloni. Para kelelawar mengikuti jejak si kelelawar kecil. Mereka memohon, mengemis, bahkan banyak kelelawar yang memberi bantuan tanpa imbalan hanya untuk sebuah cara berburu.
Satu per satu kelelawar bertindak seperti kelelawar kecil. Sampai koloni itu berubah menjadi sebuah sekte. Si kelelawar pemburu itu sekarang menjadi ketua sekte dan kelelawar lain menjadi anggotanya. Para anggota sekte kelelawar pemburu sangat setia pada sang ketua.
Hutang budi itu berubah menjadi hutang nyawa. Semua kelelawar takut dan patuh padanya. Bahkan ada kelelawar yang rela menomorduakan keluarganya hanya demi menyenangkan hati ketua sektenya.
Sekte kelelawar pemburu itu masih diminati sampai saat ini. Hutang budi yang tidak pernah lunas dibayar itu terus menjadi penyakit di dalam koloni kelelawar. Tidak ada yang boleh mengingatkan si ketua meskipun ia bersalah. Semua benar di mata anggota. Kalau ada yang menyalahkan si ketua, semua anggota sekte akan membelanya. Tanpa pamrih dan tanpa upah.
Selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar