Sabtu, 23 Mei 2026

Roti vs Kotak Nasi


 


​Hai teman baik, mau bedah cerita lagi nih. Sekarang bintang utamanya adalah perut dan kekuasaan.

​Zaman dahulu kala, tepatnya saat Romawi masih memimpin, ada satu strategi politik paling licik namun cerdik bernama Panem et Circenses (roti dan sirkus).

​Jadi, konsep politik ini menggunakan perut rakyat sebagai tameng kekuasaan. Kalau peradaban dibangun lewat kecerdasan berpikir, metode politik ini justru menggunakan rasa kenyang sebagai pondasinya.

​Kenapa begitu? Ya jelas, supaya rakyat tidak rewel dan tidak menuntut lebih banyak. Karena jika mereka hanya diberi makan tanpa diberi pengetahuan, mereka akan cenderung mudah dikendalikan.

​Tapi justru ini masalah utamanya. Negara dengan sistem seperti ini akan mudah sekali dikelabui karena rakyatnya terlalu lemah dalam berpikir. Mereka tidak akan pernah maju dan kaya. Mereka akan tetap pada kondisi awalnya, bedanya perut mereka tidak lapar.

​Rakyat yang harusnya memiliki kekuasaan tertinggi dalam politik justru dijadikan ternak oleh penguasa karena rendahnya daya pikir mereka.

​Ironis sekali. Dan sekarang, hal ini sedang dibangun lagi di negara yang jauh dari peradaban Romawi, tetapi menjadi pengeluaran terbanyak tiap tahun dengan anggaran ratusan triliun. Bahkan, sekolah dan kesehatan hanya berada di prioritas nomor sekian.

​Kalau ini dilanjutkan, apakah akan ada harapan bagi negeri itu? Atau justru memang itu tujuan penguasa negeri itu? Menjadikan negeri itu sebagai Panem et Circenses 2.0? Kita tahu, tapi kita tidak bisa apa-apa.

​Karena sepintar apa pun rakyat, kalau pemimpinnya bodoh, mereka hanya harus mengikuti aturan.

​Salam damai.

Semoga kita semua adalah orang-orang yang berpikir.

Senin, 18 Mei 2026

Surat Untuk Pendidikan


Hai teman baik, saya seorang guru yang mengajar di sebuah SD swasta di pelosok desa di Kabupate. Saya mengajar sejak tahun 2021 sampai kini. Selain mengajar di sekolah saya juga mengajar privat serta mengajar di TPQ. 

Saya mau menceritakan tentang pengalaman saya mengajar meskipun itu baru sebentar. 

Saya guru yang sangat aktif bergerak dan juga saya sangat suka berdiskusi dengan anak-anak. Bahkan tidak jarang saya mengatakan pada mereka "bukan saya yang pintar hanya saja saya hidup jauh lebih lama dari kalian". Supaya ketika kami berdiskusi tidak terkesan kaku dan menggurui. Bukan menjadi manusia sempurna di hadapaan mereka namun menjadi teman belajar yang menyenangkan.

Saya juga punya aturan tidak tertulis di sekolah kami yang kami sepakati bersama anak-anak dan guru. Bahwa setiap kami berbuat salah kami akan di beri hukuman dan itu berlaku untuk semua bukan hanya siswa dan kami benar-benar menerapkannya. 

Saya mau membangun ekosistem baru di lingkungan belajar kami bahwa kesalahan tidak hanya bisa di lakukan oleh anak-anak bahkan orang dewasa juga bisa melakukannya. 

Saya tidak ingin anak-anak merasa hukum itu bertindak tidak adil untuk mereka. Saya ingin hukum yang benar-benar adil di mata mereka. Tidak perduli siapa yang salah dia harus tetap di hukum. 

kegiatan lain yang sering kami lakukan juga berdiskusi terbuka. Mereka bebas bertanya dan berpendapat. Mereka berhak mendapat apresiasi saat mereka menjawab atau berpendapat. Hal itulah yang membuat mereka tidak membuat jarak terlalu jauh dengan kami. 

kami juga jarang menegur mereka ketika melakukan sesuatu. Selama itu tidak berbahaya untuk dirinya dan orang lain kami tidak pernah melarang. Bukan karena malas melarang. Tapi bukannya mereka juga butuh ruang untuk berekspresi. 

 Sebagian besar teman saya mengajar juga sama seperti saya. Sehingga lingkungan sekolah kami cukup ramai dengan suara siswa dan pergerakan mereka juga. Mereka hormat pada kami tapi tidak pasif. Sehingga mereka juga tidak takut dengan orang baru dan tempat baru sangking pemberaninya.

Mereka tidak ragu menanyakan hal-hal yang mereka rasa itu baru mereka dengar. Mereka juga selalu menyapa saya dengan antusias di luar maupun di dalam sekolah. Hal ini menurut saya baik. Tapi baik dan tidak itu tergantung mata mana yang melihat bukan? 

Hari ini senin 18 mei 2026 dua orang dari dinas pendidikan datang untuk meninjau sekolah kami. Kebetulan beliau datang pada saat jam istirahat siswa. 

Seperti yang sudah saya jelaskan mereka tidak takut apapun dan siapapun. Sekali lagi mereka cuma tidak takut bukan tidak hormat. 

Dua orang dari dinas pendidikan itu bercerita bahwa saat tiba di sekolah kami dan melihat betapa aktifnya anak didik kami mereka merasa anak-anak ini terlalu aktif tidak seperti di sekolah lain yang muridnya cenderung diam ketika orang asing datang. Beliau berdua mengatakan seolah hal ini tidak terlalu baik. 

Sejenak saya merenung. Memang beberapa kali saya ke sekolah lain murid-muridnya tidak seaktif murid saya tapi saya malah merasa aneh ketika murid SD terlalu tenang. 

Saya berpikir apakah ada yang salah dari pola mengajar kami? Atau mungkin sebenarnya murid itu harus selalu setenang dan sediam itu? Apa murid saya terlalu pemberani sehingga terlihat tidak sopan dimata orang lain? 

Tapi disisi lain saya merasa bukannya pendidikan itu berfungsi untuk menciptakan manusia pemberani dan merdeka. Bukannya aktif itu adalah sifat alami anak-anak. 

Apakah pendidikan sebenarnya tidak pernah benar-benar berkembang. Karena beberapa pendidik senior ingin menerapkan pola pendidikan yang sama seperti puluhan tahun lalu, dimana siswa takut pada gurunya bahkan tidak berani menyapa gurunya dengan ceria. 

Ini hanya sedikit keresahan yang saya alami di sekolah. Keresahan ini bukan untuk menghakimi dunia pendidikan.

Terimakasih semoga pembaca bisa mengerti dengan keresahan yang saya alami.

Sampai ketemu lagi..


Pulau Bandeng

​Pulau Bandeng adalah sebuah pulau dengan alam hijau yang terhampar luas. Potensinya besar, masyarakatnya bahagia, dan ada sebuah pemerintah...