Pulau Bandeng adalah sebuah pulau dengan alam hijau yang terhampar luas. Potensinya besar, masyarakatnya bahagia, dan ada sebuah pemerintahan kecil di sana yang dipimpin oleh Partai Raja Amis.
Raja Amis adalah seorang pemimpin yang cukup disegani. Ia memiliki satu kemampuan super yang kesohor di seluruh Pulau Bandeng, yaitu berjajar. Kemampuan berjajar ini bukan sekadar baris-berbaris biasa, melainkan sebuah seni menyelaraskan pikiran, melatih kedisiplinan tingkat tinggi, dan pembentukan mental kepemimpinan. Saking sakralnya, kemampuan berjajar ini wajib dikuasai oleh seluruh penghuni Pulau Bandeng tanpa terkecuali. Sementara itu, Raja Amis adalah satu-satunya pemilik tingkatan tertinggi dari kemampuan tersebut.
Bagi anggota Divisi Kecerdasan, kemampuan berjajar adalah harga mati. Mereka tidak akan pernah diakui sebagai pengajar yang profesional dan kompeten dalam memimpin kelas jika tidak mengantongi sertifikat keahlian dari sang Raja. Sertifikat pemegang kendali itu bernama "Jejer Bandeng". Tanpa selembar kertas bertanda tangan Raja Amis tersebut, seorang anggota divisi dianggap tidak sah untuk mengajar.
Namun, monopoli Raja Amis tidak berhenti di situ. Aturan tersebut dilebarkan sayapnya. Raja Amis mengeluarkan titah bahwa seluruh rakyat juga diwajibkan mengikuti pelatihan berjajar demi melatih rasa disiplin, ketahanan fisik, dan dasar-dasar kepemimpinan.
Di sinilah letak ladang emas bagi sang Raja.
Untuk mendapatkan sertifikat Jejer Bandeng, baik bagi anggota divisi yang ingin sertifikasi profesional maupun rakyat biasa, semuanya diwajibkan membayar upeti pendaftaran yang tidak murah. Alasan sang Raja, "Uang itu untuk biaya seragam berjajar, peluit, tongkat, dan konsumsi pelatihan."
Padahal pada kenyataannya, pelatihan dilakukan di bawah terik matahari tanpa tenda, dan sertifikatnya hanya dicetak di atas kertas biasa. Demi pengakuan profesi dan status, para anggota divisi serta rakyat terpaksa berbondong-bondong menyerahkan harta mereka. Dari bisnis sertifikat Jejer Bandeng inilah, pundi-pundi kekayaan pribadi Raja Amis terus menggelembung pesat.
Raja Amis juga memiliki staf pengelolaan kekayaan Pulau Bandeng bernama Si Bawal. Kata Raja Amis, Bawal sudah dianggap seperti putranya sendiri, dan berita ini selalu ia umumkan kepada seluruh rakyatnya.
Di sisi lain, rakyat hanya ingin hidup sejahtera karena penghasilan pulau ini cukup melimpah. Lagipula, Raja Amis sudah cukup kaya karena mengelola sertifikat Jejer Bandeng. Rakyat yakin tidak mungkin Raja Amis akan mengkhianati mereka.
Masalah Anggaran dan Tambang Baru
Masalah mulai muncul saat pembagian anggaran kepada setiap divisi, salah satunya adalah Divisi Kecerdasan, yang dananya ternyata selalu saja terlambat. Rakyat mulai bertanya-tanya, ke mana perginya kekayaan Pulau Bandeng selama ini? Rakyat bahkan tidak pernah diberi tahu bagaimana sumber kekayaan itu dikelola.
Sampai akhirnya, salah seorang Menteri Kecerdasan bertanya kepada Si Bawal.
"Kenapa semua anggaran tidak segera dibayarkan? Bukankah akan menyulitkan kalau melakukan sesuatu tanpa ada anggarannya? Padahal sejatinya pulau ini cukup kaya."
Si Bawal menjawab, "Pulau ini kekurangan kekayaan. Bahkan asal tahu saja, aku sudah menggunakan kekayaan pribadiku demi kelancaran pemerintahan di pulau ini."
Sang menteri pun terdiam, lalu mengusulkan untuk menambah jumlah tambang kekayaan supaya keuangan tetap aman. Raja Amis menyetujui usulan tersebut dengan senang hati.
Menteri itu pun berjalan menghampiri Divisi Kecerdasan dengan rasa bangga.
"Tenang teman-teman, kita tidak akan lagi kekurangan kekayaan karena tambang sudah ditambah oleh Raja Amis!"
Namun, masalah justru terjadi tepat setelah tambang itu digali dan hasilnya bisa dinikmati. Raja Amis dan Si Bawal masih saja berdalih bahwa mereka kekurangan sumber kekayaan. Satu tambang baru tidak bisa mencukupi, kata mereka.
Saran dari Ratu Duyung
Hingga akhirnya, Ratu Duyung mendengar kabar tersebut. Ratu Duyung tidak tinggal diam; ia mengumpulkan seluruh Divisi Kecerdasan dan Si Bawal untuk berdiskusi.
Ratu Duyung bertanya kepada Si Bawal, "Ke mana saja perginya harta itu?"
Si Bawal menjawab, "Raja Amis sering memberikan nota pembelian peralatan Divisi Kecerdasan, dan itu jumlahnya besar. Sedangkan kekayaan kita tidak sebanyak pengeluaran sang Raja."
Ratu Duyung memberi nasihat, "Bagaimana kalau kita meminta rakyat untuk membayar pajak? Karena di pulau tempatku tinggal, semua bisa dikendalikan dengan menarik pajak dari rakyat. Tapi kita harus transparan dan memberi tahu rakyat apa saja yang mau kita lakukan, serta dampaknya harus bisa dirasakan langsung oleh mereka."
Si Bawal steadfast setuju dan mengusulkannya kepada Raja Amis.
Keesokan harinya, Si Bawal memberi tahu seluruh Divisi Kecerdasan dengan wajah muram. Katanya, Raja menolak karena takut rakyat akan murka. Ratu Duyung pun tidak menyalahkan sikap Raja Amis, karena sejatinya pemimpin tertinggi di Pulau Bandeng ini adalah beliau.
Hadiah dari Istana Perak
Setelah berbulan-bulan, seluruh divisi hampir kolaps karena tidak ada pembelian peralatan, serta upah yang tidak kunjung dibayar. Sang Raja terlihat santai, sementara Si Bawal selalu memberikan seribu satu alasan kepada seluruh divisi. Hal ini berlangsung hingga hampir tiga tahun kepemimpinan Raja Amis.
Sampai suatu hari, sebuah pengumuman menyatakan bahwa para anggota divisi diundang ke Istana Perak untuk memperoleh pelatihan khusus. Pelatihan itu berjalan selama tiga bulan, dan setelahnya, para anggota divisi mendapat hadiah yang dikirim dari Istana Perak setiap bulannya.
Para anggota merasa senang karena setidaknya mereka tidak harus menunggu upah dari Raja Amis yang tidak pernah dibayar tepat waktu.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Raja Amis memanggil Si Bawal ke kediamannya. Setelah pertemuan itu, Si Bawal mengumumkan bahwa hadiah yang diterima dari Istana Perak harus terlebih dahulu diserahkan kepada Raja Amis untuk ditinjau—seberapa banyak yang boleh dibawa pulang dan seberapa banyak yang harus ditinggalkan untuk sang Raja.
Satu hal lagi, upah para anggota tidak akan dibayarkan karena mereka dianggap sudah mendapat hadiah dari Istana Perak tersebut.
Akhir di Pulau Bandeng
Para anggota divisi murka. Mereka merasa Raja Amis telah melakukan pemerasan. Tapi sang Raja dan Si Bawal tidak peduli; mereka tetap memaksa agar hadiah itu dibagi. Si Bawal sendiri tidak melakukan tindakan apa pun untuk membela mereka, karena ia tidak mendapat undangan ke Istana Perak sehingga tidak menerima hadiah.
Anehnya, meski upah sudah tidak diberi dan hadiah sudah dibagi, Divisi Kecerdasan tetap saja kekurangan sumber kekayaan. Si Bawal dan Raja Amis terus melempar kesalahan, persis seperti dua pencuri yang saling menuduh.
Ratu Duyung dan seluruh divisi hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkah laku mereka berdua. Ratu Duyung yang awalnya merasa bisa mengubah sesuatu di pulau ini, ternyata sadar bahwa kehadirannya tidak berguna.
Ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke habitatnya bersama rekan-rekan duyung yang lain, meninggalkan teman-temannya yang masih terjebak di Pulau Bandeng.
Selesai

Tidak ada komentar:
Posting Komentar