Senin, 15 Juni 2026

Pulau Bandeng

​Pulau Bandeng adalah sebuah pulau dengan alam hijau yang terhampar luas. Potensinya besar, masyarakatnya bahagia, dan ada sebuah pemerintahan kecil di sana yang dipimpin oleh Partai Raja Amis.

​Raja Amis adalah seorang pemimpin yang cukup disegani. Ia memiliki satu kemampuan super yang kesohor di seluruh Pulau Bandeng, yaitu berjajar. Kemampuan berjajar ini bukan sekadar baris-berbaris biasa, melainkan sebuah seni menyelaraskan pikiran, melatih kedisiplinan tingkat tinggi, dan pembentukan mental kepemimpinan. Saking sakralnya, kemampuan berjajar ini wajib dikuasai oleh seluruh penghuni Pulau Bandeng tanpa terkecuali. Sementara itu, Raja Amis adalah satu-satunya pemilik tingkatan tertinggi dari kemampuan tersebut.

​Bagi anggota Divisi Kecerdasan, kemampuan berjajar adalah harga mati. Mereka tidak akan pernah diakui sebagai pengajar yang profesional dan kompeten dalam memimpin kelas jika tidak mengantongi sertifikat keahlian dari sang Raja. Sertifikat pemegang kendali itu bernama "Jejer Bandeng". Tanpa selembar kertas bertanda tangan Raja Amis tersebut, seorang anggota divisi dianggap tidak sah untuk mengajar.

​Namun, monopoli Raja Amis tidak berhenti di situ. Aturan tersebut dilebarkan sayapnya. Raja Amis mengeluarkan titah bahwa seluruh rakyat juga diwajibkan mengikuti pelatihan berjajar demi melatih rasa disiplin, ketahanan fisik, dan dasar-dasar kepemimpinan.

​Di sinilah letak ladang emas bagi sang Raja.

​Untuk mendapatkan sertifikat Jejer Bandeng, baik bagi anggota divisi yang ingin sertifikasi profesional maupun rakyat biasa, semuanya diwajibkan membayar upeti pendaftaran yang tidak murah. Alasan sang Raja, "Uang itu untuk biaya seragam berjajar, peluit, tongkat, dan konsumsi pelatihan."

​Padahal pada kenyataannya, pelatihan dilakukan di bawah terik matahari tanpa tenda, dan sertifikatnya hanya dicetak di atas kertas biasa. Demi pengakuan profesi dan status, para anggota divisi serta rakyat terpaksa berbondong-bondong menyerahkan harta mereka. Dari bisnis sertifikat Jejer Bandeng inilah, pundi-pundi kekayaan pribadi Raja Amis terus menggelembung pesat.

​Raja Amis juga memiliki staf pengelolaan kekayaan Pulau Bandeng bernama Si Bawal. Kata Raja Amis, Bawal sudah dianggap seperti putranya sendiri, dan berita ini selalu ia umumkan kepada seluruh rakyatnya.

​Di sisi lain, rakyat hanya ingin hidup sejahtera karena penghasilan pulau ini cukup melimpah. Lagipula, Raja Amis sudah cukup kaya karena mengelola sertifikat Jejer Bandeng. Rakyat yakin tidak mungkin Raja Amis akan mengkhianati mereka.

​Masalah Anggaran dan Tambang Baru

​Masalah mulai muncul saat pembagian anggaran kepada setiap divisi, salah satunya adalah Divisi Kecerdasan, yang dananya ternyata selalu saja terlambat. Rakyat mulai bertanya-tanya, ke mana perginya kekayaan Pulau Bandeng selama ini? Rakyat bahkan tidak pernah diberi tahu bagaimana sumber kekayaan itu dikelola.

​Sampai akhirnya, salah seorang Menteri Kecerdasan bertanya kepada Si Bawal.

"Kenapa semua anggaran tidak segera dibayarkan? Bukankah akan menyulitkan kalau melakukan sesuatu tanpa ada anggarannya? Padahal sejatinya pulau ini cukup kaya."

​Si Bawal menjawab, "Pulau ini kekurangan kekayaan. Bahkan asal tahu saja, aku sudah menggunakan kekayaan pribadiku demi kelancaran pemerintahan di pulau ini."

​Sang menteri pun terdiam, lalu mengusulkan untuk menambah jumlah tambang kekayaan supaya keuangan tetap aman. Raja Amis menyetujui usulan tersebut dengan senang hati.

​Menteri itu pun berjalan menghampiri Divisi Kecerdasan dengan rasa bangga.

"Tenang teman-teman, kita tidak akan lagi kekurangan kekayaan karena tambang sudah ditambah oleh Raja Amis!"

​Namun, masalah justru terjadi tepat setelah tambang itu digali dan hasilnya bisa dinikmati. Raja Amis dan Si Bawal masih saja berdalih bahwa mereka kekurangan sumber kekayaan. Satu tambang baru tidak bisa mencukupi, kata mereka.

​Saran dari Ratu Duyung

​Hingga akhirnya, Ratu Duyung mendengar kabar tersebut. Ratu Duyung tidak tinggal diam; ia mengumpulkan seluruh Divisi Kecerdasan dan Si Bawal untuk berdiskusi.

​Ratu Duyung bertanya kepada Si Bawal, "Ke mana saja perginya harta itu?"

​Si Bawal menjawab, "Raja Amis sering memberikan nota pembelian peralatan Divisi Kecerdasan, dan itu jumlahnya besar. Sedangkan kekayaan kita tidak sebanyak pengeluaran sang Raja."

​Ratu Duyung memberi nasihat, "Bagaimana kalau kita meminta rakyat untuk membayar pajak? Karena di pulau tempatku tinggal, semua bisa dikendalikan dengan menarik pajak dari rakyat. Tapi kita harus transparan dan memberi tahu rakyat apa saja yang mau kita lakukan, serta dampaknya harus bisa dirasakan langsung oleh mereka."

​Si Bawal steadfast setuju dan mengusulkannya kepada Raja Amis.

​Keesokan harinya, Si Bawal memberi tahu seluruh Divisi Kecerdasan dengan wajah muram. Katanya, Raja menolak karena takut rakyat akan murka. Ratu Duyung pun tidak menyalahkan sikap Raja Amis, karena sejatinya pemimpin tertinggi di Pulau Bandeng ini adalah beliau.

​Hadiah dari Istana Perak

​Setelah berbulan-bulan, seluruh divisi hampir kolaps karena tidak ada pembelian peralatan, serta upah yang tidak kunjung dibayar. Sang Raja terlihat santai, sementara Si Bawal selalu memberikan seribu satu alasan kepada seluruh divisi. Hal ini berlangsung hingga hampir tiga tahun kepemimpinan Raja Amis.

​Sampai suatu hari, sebuah pengumuman menyatakan bahwa para anggota divisi diundang ke Istana Perak untuk memperoleh pelatihan khusus. Pelatihan itu berjalan selama tiga bulan, dan setelahnya, para anggota divisi mendapat hadiah yang dikirim dari Istana Perak setiap bulannya.

​Para anggota merasa senang karena setidaknya mereka tidak harus menunggu upah dari Raja Amis yang tidak pernah dibayar tepat waktu.

​Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Raja Amis memanggil Si Bawal ke kediamannya. Setelah pertemuan itu, Si Bawal mengumumkan bahwa hadiah yang diterima dari Istana Perak harus terlebih dahulu diserahkan kepada Raja Amis untuk ditinjau—seberapa banyak yang boleh dibawa pulang dan seberapa banyak yang harus ditinggalkan untuk sang Raja.

​Satu hal lagi, upah para anggota tidak akan dibayarkan karena mereka dianggap sudah mendapat hadiah dari Istana Perak tersebut.

​Akhir di Pulau Bandeng

​Para anggota divisi murka. Mereka merasa Raja Amis telah melakukan pemerasan. Tapi sang Raja dan Si Bawal tidak peduli; mereka tetap memaksa agar hadiah itu dibagi. Si Bawal sendiri tidak melakukan tindakan apa pun untuk membela mereka, karena ia tidak mendapat undangan ke Istana Perak sehingga tidak menerima hadiah.

​Anehnya, meski upah sudah tidak diberi dan hadiah sudah dibagi, Divisi Kecerdasan tetap saja kekurangan sumber kekayaan. Si Bawal dan Raja Amis terus melempar kesalahan, persis seperti dua pencuri yang saling menuduh.

​Ratu Duyung dan seluruh divisi hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkah laku mereka berdua. Ratu Duyung yang awalnya merasa bisa mengubah sesuatu di pulau ini, ternyata sadar bahwa kehadirannya tidak berguna.

​Ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke habitatnya bersama rekan-rekan duyung yang lain, meninggalkan teman-temannya yang masih terjebak di Pulau Bandeng.

​Selesai

Sabtu, 23 Mei 2026

Roti vs Kotak Nasi


 


​Hai teman baik, mau bedah cerita lagi nih. Sekarang bintang utamanya adalah perut dan kekuasaan.

​Zaman dahulu kala, tepatnya saat Romawi masih memimpin, ada satu strategi politik paling licik namun cerdik bernama Panem et Circenses (roti dan sirkus).

​Jadi, konsep politik ini menggunakan perut rakyat sebagai tameng kekuasaan. Kalau peradaban dibangun lewat kecerdasan berpikir, metode politik ini justru menggunakan rasa kenyang sebagai pondasinya.

​Kenapa begitu? Ya jelas, supaya rakyat tidak rewel dan tidak menuntut lebih banyak. Karena jika mereka hanya diberi makan tanpa diberi pengetahuan, mereka akan cenderung mudah dikendalikan.

​Tapi justru ini masalah utamanya. Negara dengan sistem seperti ini akan mudah sekali dikelabui karena rakyatnya terlalu lemah dalam berpikir. Mereka tidak akan pernah maju dan kaya. Mereka akan tetap pada kondisi awalnya, bedanya perut mereka tidak lapar.

​Rakyat yang harusnya memiliki kekuasaan tertinggi dalam politik justru dijadikan ternak oleh penguasa karena rendahnya daya pikir mereka.

​Ironis sekali. Dan sekarang, hal ini sedang dibangun lagi di negara yang jauh dari peradaban Romawi, tetapi menjadi pengeluaran terbanyak tiap tahun dengan anggaran ratusan triliun. Bahkan, sekolah dan kesehatan hanya berada di prioritas nomor sekian.

​Kalau ini dilanjutkan, apakah akan ada harapan bagi negeri itu? Atau justru memang itu tujuan penguasa negeri itu? Menjadikan negeri itu sebagai Panem et Circenses 2.0? Kita tahu, tapi kita tidak bisa apa-apa.

​Karena sepintar apa pun rakyat, kalau pemimpinnya bodoh, mereka hanya harus mengikuti aturan.

​Salam damai.

Semoga kita semua adalah orang-orang yang berpikir.

Senin, 18 Mei 2026

Surat Untuk Pendidikan


Hai teman baik, saya seorang guru yang mengajar di sebuah SD swasta di pelosok desa di Kabupate. Saya mengajar sejak tahun 2021 sampai kini. Selain mengajar di sekolah saya juga mengajar privat serta mengajar di TPQ. 

Saya mau menceritakan tentang pengalaman saya mengajar meskipun itu baru sebentar. 

Saya guru yang sangat aktif bergerak dan juga saya sangat suka berdiskusi dengan anak-anak. Bahkan tidak jarang saya mengatakan pada mereka "bukan saya yang pintar hanya saja saya hidup jauh lebih lama dari kalian". Supaya ketika kami berdiskusi tidak terkesan kaku dan menggurui. Bukan menjadi manusia sempurna di hadapaan mereka namun menjadi teman belajar yang menyenangkan.

Saya juga punya aturan tidak tertulis di sekolah kami yang kami sepakati bersama anak-anak dan guru. Bahwa setiap kami berbuat salah kami akan di beri hukuman dan itu berlaku untuk semua bukan hanya siswa dan kami benar-benar menerapkannya. 

Saya mau membangun ekosistem baru di lingkungan belajar kami bahwa kesalahan tidak hanya bisa di lakukan oleh anak-anak bahkan orang dewasa juga bisa melakukannya. 

Saya tidak ingin anak-anak merasa hukum itu bertindak tidak adil untuk mereka. Saya ingin hukum yang benar-benar adil di mata mereka. Tidak perduli siapa yang salah dia harus tetap di hukum. 

kegiatan lain yang sering kami lakukan juga berdiskusi terbuka. Mereka bebas bertanya dan berpendapat. Mereka berhak mendapat apresiasi saat mereka menjawab atau berpendapat. Hal itulah yang membuat mereka tidak membuat jarak terlalu jauh dengan kami. 

kami juga jarang menegur mereka ketika melakukan sesuatu. Selama itu tidak berbahaya untuk dirinya dan orang lain kami tidak pernah melarang. Bukan karena malas melarang. Tapi bukannya mereka juga butuh ruang untuk berekspresi. 

 Sebagian besar teman saya mengajar juga sama seperti saya. Sehingga lingkungan sekolah kami cukup ramai dengan suara siswa dan pergerakan mereka juga. Mereka hormat pada kami tapi tidak pasif. Sehingga mereka juga tidak takut dengan orang baru dan tempat baru sangking pemberaninya.

Mereka tidak ragu menanyakan hal-hal yang mereka rasa itu baru mereka dengar. Mereka juga selalu menyapa saya dengan antusias di luar maupun di dalam sekolah. Hal ini menurut saya baik. Tapi baik dan tidak itu tergantung mata mana yang melihat bukan? 

Hari ini senin 18 mei 2026 dua orang dari dinas pendidikan datang untuk meninjau sekolah kami. Kebetulan beliau datang pada saat jam istirahat siswa. 

Seperti yang sudah saya jelaskan mereka tidak takut apapun dan siapapun. Sekali lagi mereka cuma tidak takut bukan tidak hormat. 

Dua orang dari dinas pendidikan itu bercerita bahwa saat tiba di sekolah kami dan melihat betapa aktifnya anak didik kami mereka merasa anak-anak ini terlalu aktif tidak seperti di sekolah lain yang muridnya cenderung diam ketika orang asing datang. Beliau berdua mengatakan seolah hal ini tidak terlalu baik. 

Sejenak saya merenung. Memang beberapa kali saya ke sekolah lain murid-muridnya tidak seaktif murid saya tapi saya malah merasa aneh ketika murid SD terlalu tenang. 

Saya berpikir apakah ada yang salah dari pola mengajar kami? Atau mungkin sebenarnya murid itu harus selalu setenang dan sediam itu? Apa murid saya terlalu pemberani sehingga terlihat tidak sopan dimata orang lain? 

Tapi disisi lain saya merasa bukannya pendidikan itu berfungsi untuk menciptakan manusia pemberani dan merdeka. Bukannya aktif itu adalah sifat alami anak-anak. 

Apakah pendidikan sebenarnya tidak pernah benar-benar berkembang. Karena beberapa pendidik senior ingin menerapkan pola pendidikan yang sama seperti puluhan tahun lalu, dimana siswa takut pada gurunya bahkan tidak berani menyapa gurunya dengan ceria. 

Ini hanya sedikit keresahan yang saya alami di sekolah. Keresahan ini bukan untuk menghakimi dunia pendidikan.

Terimakasih semoga pembaca bisa mengerti dengan keresahan yang saya alami.

Sampai ketemu lagi..


Rabu, 22 April 2020

Belajar #DirumahAja


Inovasi Pembelajar Selama #dirumahaja
Para orang tua mungkin mengalami kesulitan untuk mengajari anaknya belajar selama pandemi corona ini. Anak mungkin akan mudah bosan dengan kegiatan belajar yang begitu-begitu saja. Saya selaku calon tenaga pendidik juga merasakan dampak dari pandemi yang masih belum berakhir hingga saat ini. Metode pembelajaran yang saya buat ini juga merupakan metode yang saya gunakan saat mengajar di kelas. Namun saya rasa metode ini juga bisa di lakukan saat dirumah aja seperti saat ini. Tokoh Terkenal Langkah pertama Guru menyiapkan beberapa gambar tokoh yang terkenal yang terkait dengan materi pembelajaran Rangkai semua tokoh tersebut agar mudah dipahami oleh siswa Bisa menggunakan media berupa kertas atau cukup dalam microsoft power point Langkah kedua Siswa diminta mengamati gambar yang telah disiapkan guru Siswa diminta memahami maksud dari tiap-tiap gambar Setelah tiap-tiap siswa mengamati gambar maka minta mereka membuat kelompok besar terdiri dari 3 atau 4 kelompok Minta mereka berdiskusi kembali mengenai gambar tersebut secara berkelompok. Jika untuk saat ini tidak mungkin bida membuat kelompok maka siswa di minta bepikir secara mandiri. Contoh Gambar kambing yang di sembelih Maka bisa disimpulakan dari gambar tersebut materi yang akan disampaikan adalah materi Qurban atau Aqiqah Gambar Tanggal 10 11 12 13 Dzulhijjah Kemudian dalam gambar setelahnya ditunjukkan kembali gambar sapi dengan keterangan waktu 10 11 12 13 dhulhijjah. Dengan begitu siswa akan dapat menyimpulakan bahwa maksud gambar tersebut adalah pelaksanaan kurban. Selanjutnya silahkan berikan gambar-gambar yang lain sehingga siswa bisa menebak gambar tersebut. Catatan Metode ini bisa digunakan untuk materi Qurban dan menghafal mufrodat atau kosa kata dalam bahasa asing. Semoga bermanfaat dan tetap dirumahaja

Selasa, 23 Oktober 2018

Elida Djazman

Sosok Hebat dibalik Muhammad Djazman. Muhammad Djazman merupakan Rektor pertama Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tahun 1981-1992 sosok Muhammad Djazman dikenal bukan hanya karena beliau merupakan rektor UMS yang pertm kali melainkan lebih dari itu, beliau juga sebagai pendiri Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah (Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah). Beliau juga http://benirouf.blogspot.com/2014/12/elida-djasman-angkatan-muda. adalah pendiri dan penggagas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Muhammad Djazman merupakan sosok hebat dibalik perjuangan Muhammadiyah dan merupakan seorang yang berjasa bagi UMS. Dibalik sosok Muhammad Djazman yang dikenal karena kecerdasannya ada seorang yang sangat berjasa yang dengan setia menemani serta memberi dukungan yang tidak lain adalah istri beliau Elida Djazman. Elida Djazman lahir di Medan, Sumatera Utara, 11 Juli 1940. Lahir dari pasangan HM Bustami Ibrahim dan Rohana yang juga aktivis Muhammadiyah. Elida mulai dari pendidikan, karier, hingga aktivitas organisasi dengan latar belakang muhammadiyah. Menikah dengan tokoh Muhammadiyah, yaitu almarhum Djazman Alkindi, yang merupakan salah satu pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Saat duduk di kelas 2 SPG Elida menjadi pengurus Nadhatul Aisyah, dangan jabatannya menjadi wakil ketua dalam organisasi Nadhatul Aisiyah. Elida terus aktif dalam organisasi hingga tahun 1966, kemudian pada tahun 1967 hingga 1975 Elida lebih aktif dalam organisasi PP NA . bukan hanya aktif di NA namun beliau juga aktif dalam organisasi kemahasiswaan antara lain HMI dan IMM. KETERLIBATAN Elida dalam IMM karena organisai ini mampu bergerak dalam kegiatan dakwah dipedesaan. Keterlibatannya di IMM membuat beliau sampai mejadi Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM tahun 1964-1968      Aktivitas Elyda di PP NA membuatnya banyak mengenal para tokoh Aisyiyah, hingga Muktamar Aisyiyah ke-40 tahun 1978 Elida mulai masuk jajaran pengurus PP Aisyiyah sebagai bendahara kecil. Elida terpilih sebagai ketua PP Aisyiyah pada Muktamar ke-41 untuk periode 1985-1990. Elida kembali terpilih menjadi ketua PP pada Muktamar Aisyiyah ke-42 di Yogyakarta untuk periode 1990-1995 dan Muktamar ke-43 di Banda Aceh untuk periode 1995-2000. Pada tahun 2000 hingga saat ini beliau dipercaya sebagai penasehat PP Aisyiyah. Elida, yang juga mantan Ketua Umum Aisyiyah ini mendapatkan penghargaan UMM Award sebagai salah satu tokoh inspiratif Muhammadiyah. Berkat dedikasinya selama berjuang di Muhammadiyah dalam usia yang lebih dari 70 tahun, beliau masih semangat berjuang di Muhammadiyah. Meski tubuhnya sudah agak lemah tapi bicaranya tetap lantang dan bergelora, ketika saat itu memberikan sambutan testimoni setelah meraih pengahargaan tersebut. Kariernya sebagai guru di sekolah Muhammadiyah telah dimulai sebelum, sembari, hingga sesudah studinya di IKIP Muhammadiyah Solo. Pada 1958-1960, Elida mengajar di Sekolah Dasar Muhammadiyah Medan, lalu mengajar di Pendidikan Guru Agama (PGA) Aisyiyah Medan pada 1962-1963. Setelah meraih gelar Sarjana Muda, ia mengajar lagi di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak (SGTK) Medan pada 1964-1966 sebagai guru negeri diperbantukan. Pada 1967, saat meneruskan kuliahnya di Solo, ia juga mengajar di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Aisyiyah hingga 1982. Setelah itu, pada 1982 hingga 2000, ia banyak menghabiskan waktunya sebagai guru di SPG Muhammadiyah Yogyakarta. Selain sebagai guru, ia juga pernah menjadi dosen selama enam tahun di Pondok Hajjah Nuriyah Shobron Surakarta pada 1985-1990.      Elida juga sangat aktif di organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah, mulai dari IMM, Nasyiatul Aisyiyah (NA), hingga Aisyiyah. Selain itu, ia juga sempat aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kemampuan organisasi Elida telah dimulai sejak ia kelas empat SD beliau aktif sebagai aktvis di NA. Bagi Elyda saat itu, aktivitas di NA sangat menyenangkan karena ia mendapat pelajaran keterampilan, menyanyi, mendongeng, masak memasak, menjahit, berpidato, hingga mengaji dan pembinaanakhlakul karimah. Di masa Djazman memimpin, para istri karyawan dan dosen mempunyai organisasi ISKI (Ikatan Silaturahmi Keluarga Istri). Oleh karena Elyda Djazman saat itu juga sebagai Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, maka ketua ISKI waktu itu dijabat oleh Chusniatun, yang merupakan istri dari pembantu Rektor I (Drs. Ahmad Syaichu, M.Sc). Keberadaan ISKI waktu itu dipandang memberi peran penting untuk mengakrabkan di antara istri dosen dan karyawan. Hal ini menjadi kenangan manis Elyda dan para istri-istri lainnya. Dukungan Elyda kepada suaminya Djazman Al-Kindi sangatlah besar. Meskipun mereka berdua berada di dalam kesibukkannya, tetapi Elyda Djazman selalu mampu menjadi ibu yang berperan baik di dalam rumah tangga. Pernah suatu ketika Elyda Djazman mengikuti Musywil ‘Asyiyah selama satu minggu,tetapi beliau tetap menyiapkanmenu makanan untuk suami dan anaknya. Sebuah gambaran nyata bahwa di balik laki-laki yang hebat dibelakangya juga ada perempuan yang hebat. ‹

Pulau Bandeng

​Pulau Bandeng adalah sebuah pulau dengan alam hijau yang terhampar luas. Potensinya besar, masyarakatnya bahagia, dan ada sebuah pemerintah...